welcome

Friday, September 8, 2017

Pencuri Chapter 6: Wanita Karismatik


Novel : Pencuri (Mimpi Manusia)
Oleh: Aufklarung Nugroho
Chapter 6
“Wanita Karismatik”

            Jam 4 sore setelah menyelesaikan tugas, Aku dan Elena bergegas menuju gedung aula kampus. Berjalan dengan Elena selalu menjadi pusat perhatian. Tentu saja karena kecantikan dan kecerdasanlah yang menjadi alasan. Ia merupakan salah satu mahasiswa berprestasi di kampus ini. Beruntung sekali aku memiliki teman dan dia mau berteman dengan orang sepertiku.
            “Hey Elena, sejak kapan kamu tahu soal klub itu?”, tanyaku yang berjalan berdampingan disebelah kanannya.
            “Em..., kira-kira enam bulan yang lalu saat masih semester 3. Waktu itu aku sedang membaca mading di depan perpustakaan dan ada pamflet dari klub berbagi. Aku baca dan sepertinya terlihat menarik, lalu aku datang keacaranya.”, jawab Elena sembari berjalan membawa buku didekapannya.
            “Kamu tahu klub itu sejak semester 3? Kenapa tidak memberi tahu aku?”, Kataku protes kepadanya.
            “Hey! Siapa suruh kamu sibuk dengan teman-teman barumu dan melupakanku?”, jawabnya sembari meletakkan tangan kanan dipinggang dan tetap mendekap buku dengan tangan kiri.
            Saat memasuki jenjang kuliah memang berbeda dengan saat berada dibangku sekolah sebelumnya. Setiap anak dituntut untuk dapat lebih mandiri dalam segala hal. Tak ada yang namanya mengerjakan pekerjaan rumah dadakan dikelas. Tak akan sempat, karena tugas yang diberikan oleh dosen seputar membuat makalah. Dalam lingkungan kampus, kita harus lebih bisa memprioritaskan segala sesuatu. Mulai dari kuliah, teman, ataupun organisasi. Dan dibangku kuliah ini, aku sudah tidak terlalu merasa kesepian karena memiliki teman seperti Elena dan teman-teman yang lain. Tidak ada yang memperdulikan masalaluku.
            “Siapa yang sibuk dengan teman-teman baru? Kamu yang selalu sibuk dengan dirimu sendiri, sampai-sampai tidak sempat bertemu denganku.”, jawabku tak kalah ketus.
            “Apa kamu bilang? Siapa yang waktu itu minta bertemu di tempat biasa? Aku  menunggu sampai perpustakaan tutup dan ternyata kamu malah pergi bersama teman-temanmu!”, Kata Elena dengan nada suara yang geram.
            “Waktu itukan aku sudah menjelaskan kalau aku lupa dan benar-benar lupa. Aku juga sudah minta maaf.”, jawabku mencoba menjelaskan lagi kepadanya.
            “Ah..., sudahlah lupakan.”, Elena mencoba menenangkan diri dengan ekspresi datarnya seakan mengacuhkan penjelasanku.
            Kita sampai di halaman gedung aula kampus yang sudah ramai. Saat melewati tempat parkir, aku melihat sebuah mobil yang terlihat tidak asing. Perlahan kuamati mobil tersebut, tidak salah lagi, itu adalah mobil yang menabrakku tadi pagi. Mobil warna merah, lebih tepatnya mobil Mercedes Benz warna merah.
Siapa kira-kira pemilik mobil itu?”, Aku bergumam dalam hati penasaran. Akan kucari tahu nanti setelah acara selesai.
Aku dan Elena masuk kedalam gedung aula kampus setelah mengurus registrasi dan memasukan uang sedekah ketempat yang sudah disediakan.
“Wow...”, Aku berdecak kagum saat berada didalam ruang aula, ruangan ini penuh.
            “Hei Elena, ramai sekali, banyak sekali yang datang ke acara ini.”
            “Kan sudah kukatakan sejak awal, acara klub berbagi ini semakin lama semakin banyak peminatnya. Untung kita masih mendapatkan tempat duduk, kita duduk disitu saja”, katanya sembari menunjuk kursi kosong di posisi pojok kanan, lalu kita bergegas sebelum kursi itu dipakai orang lain.
            “Kenapa sih kamu senang sekali cari tempat duduk di pojokkan?”, tanyaku sembari duduk dan menaruh tas dipangkuan.
            “Bukannya aku suka duduk di pojokan, ini karena kita datang terlambat dan hanya inilah kursi yang tersisa. Semua ini salahmu karena lama sekali mengerjakan kuis susulan tadi, kita jadi tidak bisa melihat dari dekat!”, jawabnya ketus.
            “Salahmu juga tidak mau membantuku mengerjakan soal-soal tadi.”, protesku.
            “Hey! Aku hanya mau mengajarimu, bukan membantumu mengerjakan! Bagaimana kamu bisa paham dan mengerti matakuliah itu kalau aku yang mengerjakan soalnya! Pantas saja tadi kamu tidak mengikuti kuis, sudah tau kalau tidak akan lulus dan lebih memilih susulan, pakai kecelakaan sebagai alasan segala!”, katanya ketus sembari memukulkan buku yang ia bawa tadi kepundakku.
            “Aku serius soal kecelakaan tadi!”, aku mencoba membela diri atas tuduhan emosionalnya itu.
            “Bodo amat, aku tidak mau mengajarimu lagi!”, kata Elena sembari mengeluarkan catatan kecil dari dalam tasnya.
            “Jangan begitulah Elena, kamukan teman baikku.”, Aku mencoba merayunya dengan senyuman termanisku.
            “Tampang macam apa itu?, seperti kucing minta diberi ikan. Sudah! Lebih baik kamu diam. Perhatikan baik-baik acara ini sampai selesai”, katanya sembari menatapku sinis dan masih dengan nada yang sedikit ketus.
            “Baiklah...”, jawabku dengan ekpresi seperti kucing yang gagal mendapatkan ikan karena majikannya sedang PMS.
            Acara klub berbagi ini begitu sederhana, dekorasinya pun tidak terlihat mewah. Hanya menggunakan background kain hitam besar dengan MMT bergambar dan bertuliskan logo klub berbagi ditempelkan dibagian tengah. Tidak ada kursi ataupun meja di atas panggung. Hanya ada hiasan pohon disamping kanan dan kiri panggung tersebut.
            Master of ceremony sudah membacakan susunan acara dan membuka acara pada sore hari ini.
”... Untuk acara pada sore hari ini hanya ada satu pembicara. Beliau adalah salah satu cendekiawan muda berbakat di Negara ini. Beliau juga merupakan anak dari President Directur perusahaan Imagine People. Marilah kita sambut dengan tepuk tangan yang meriah, Dr. Mika Andita”.
            Riuh suara tepuk tangan menghiasi ruangan ini. Seorang wanita berjalan perlahan naik keatas panggung membelakangi penonton. Aku mencoba mengingat sesuatu.
“Mika..., nama itu sepertinya tidak asing.”, gumamku lirih.
Saat wanita tersebut menghadap kearah penonton, kuamati wajahnya dari kejauhan.
            Ah wanita itu.., benar sekali. Mika, wanita yang menolongku. Rupanya dia seorang cendekiawan muda. Doktor Mika Andita, hebat sekali.”, batinku kagum.
            “Selamat sore semuanya. Perkenalkan nama saya Mika Andita, seperti yang sudah disampaikan oleh pembawa acara tadi. Saya putri sekaligus pewaris perusahaan Imagine People. Saya sangat senang dan bangga sekali bisa berada disini untuk berbagi bersama teman-teman semua. Sudah sejak lama saya ingin sekali mengisi acara di klub berbagi ini. Sebuah wadah yang sangat bermanfaat didunia pendidikan. Berbagi ilmu dengan gratis dan mengajarkan setiap hadirin yang datang kemari untuk saling berbagi juga. Beri applause yang meriah untuk klub berbagi.”, Semua penonton tepuk tangan seperti yang di instruksikannya.
            Kuperhatikan Elena, ia juga sangat fokus memperhatikan setiap perkatan dari wanita di atas panggung tersebut. Wanita itu seperti memancarkan aura yang membuat seseorang menjadi fokus memperhatikannya. Begitu juga denganku, disaat pertama kali berjumpa dengannya.
“Sebelum kita memasuki pembahasan tema dari acara kita pada sore hari ini. Saya akan menjelaskan sedikit tentang perusahaan Imagine People. Imagine People adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang penelitian dan pengembangan sumberdaya alam. Jadi, perusahaan kami meneliti dan mencari potensi kekayaan alam yang ada di dunia ini, supaya dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia, tentu saja manfaat jangka panjang. Saat ini kita sedang fokus mencari potensi alam yang dapat dimanfaatkan untuk dunia kedokteran....”, perhatian penonton tersedot oleh karisma Doktor Mika Andita. Seisi ruangan senyap, hanya suara sosok dipanggunglah yang terdengar.
Imagine People sedang membuat formula yang benar-benar dibutuhkan oleh dunia medis. Formula yang memberikan harapan baru bagi, mohon maaf, penyandang cacat. Jika formula ini dapat segera diciptakan, maka, kita tidak akan lagi melihat orang dengan bagian tubuh yang tidak lengkap. Ini akan menjadi penemuan yang sangat luar biasa.”, kata Doktor Mika dengan penuh antusias.
“Hei Elena.”, Konsentrasi Elena terbuyarkan dengan bisikan lirihku.
“Sssttssss..., diamlah jangan mengganggu konsentrasiku!”, Elena mendekatkan jari telunjuknya didepan bibir sembari berkata sedikit ketus dan menatapku dengan tatapan geram.
“Dasar kutu buku. Kau selalu asik dengan duniamu sendiri.”, gerutuku dalam hati menanggapi kebiasaanya yang tidak bisa diganggu ketika sedang konsentrasi memperhatikan sesuatu.
“Aku selalu tergila-gila dengan penelitian. Hari-hariku selalu dipenuhi dengan kegiatan di labolatorium. Kecuali hari ini, aku menyempatkan waktuku untuk bisa hadir dalam acara ini. Aku ingin berbagi tentang impian ini kepada kalian semua. Impian untuk menciptakan formula regenerasi bagi tubuh manusia.”, kata sang Doktor dengan nada yang dalam dan pasti, penuh antusias.
Semua penonton bergeming kagum, bertanya-tanya tentang formula regenerasi yang Doktor Mika katakan. Mereka saling menatap satu sama lain, berbisik-bisik lirih. “Formula Regenerasi?..., Regenerasi bagi tubuh manusia?...., tidak akan ada lagi orang cacat?...., benarkah?, benarkah?.....”, itu kiranya pertanya-pertanyaan yang keluar dari mulut para penonton.
Aku masih belum paham apa yang sedang Doktor muda itu katakan. Kulihat Elena sedang serius mencatat dibukunya. Aku hanya mengamati dan tidak ingin mengganggunya dengan satu pertanyaanpun. Mencoba memahami sendiri kata-kata yang telah diucapkan oleh Doktor Mika.
Bukan soal regenerasilah yang aku pikirkan tentang Doktor muda itu. Tetapi tentang pesonanya yang membuat seluruh penonton terpana. Semua tatapan, perhatian dan pikiran terfokus padanya. Sungguh, ia seperti memiliki energi yang keluar dari dalam tubuhnya.
“Wanita karismatik”, gumamku dalam hati sembari menyilangkan tangan didada.
Saat diri ini terbenam dalam pemikiran tentang Dr. Mika Andita. Ada seseorang datang dan duduk dikursi sebelah kiriku. Kuamati wajahnya dan ia menatapku.
“Halo batu.”, katanya sembari tersenyum.
“Batu?”, aku mencoba mengingat-ingat. Hanya satu orang yang memanggilku dengan sapaan itu.
“Kau...”
*****

No comments:

Post a Comment

Cerpen: Jiwaku untuk kejiwaan Mereka

“Jiwaku untuk kejiwaan Mereka” Oleh : Aufklarung Nugroho             “Hey..., Apa yang kamu lakukan diatas sana? Turunlah!”       ...