Novel
: Pencuri (Mimpi Manusia)
Oleh:
Aufklarung Nugroho
Chapter 3
“Hiruk-Pikuk”
Orang-orang dengan berbagai profesi sudah
memadati jalanan kota ini. Kendaraan plat merah dan hitam berkumpul menjadi
satu. Aku pandangi kesibukan orang-orang dipinggir jalan. Ada yang sedang
bercengkerama sembari menunggu datangnya angkutan kota. Ada juga yang hanya
sibuk dengan dirinya sendiri, sibuk mengamati Gadget tanpa memperdulikan
lingkungan sekitar. Gadget seakan memiliki sihir yang membuat
penggunanya lupa daratan.
Suara derum mesin dan asap kendaraan
berkumpul menjadi satu. Beginilah suasana didalam mobil angkutan kota. Harus
bisa berbagi dengan orang lain dan berdesak-desakan sudah menjadi hal biasa.
Tak jarang ada teriakan-teriakan kesal dari penumpang karena bus terlalu penuh
dan masih dipaksakan. Alasannya tidak lain dan tidak bukan adalah soal kejar
setoran.
Aku duduk dikursi pojok belakang dekat
dengan jendela. Dekat dengan jendela adalah posisi favoritku. Kalau Aku tidak
duduk dekat jendela dan mendapatkan banyak angin, bau pengap dalam angkutan ini
bisa membuatku mual. Udara yang masuk melalui jendela mengibaskan rambutku yang
telah rapi menjadi sedikit berantakan dan membuat pakaianku yang telah wangi
harus rela bercampur dengan bau jalanan. Walaupun begitu, aku tetap menyukai
transportasi umum ini.
Kuamati suasana pagi ini dari balik
jendela bus. Suara klakson bersahut-sahutan, jalanan padat. Itulah mengapa aku
lebih suka naik kendaraan umum dari pada kendaraan pribadi. Selain aksesnya
mudah dijangkau, tidak perlu lelah menyetir sendiri untuk menghadapi kemacetan
yang sering membuat geram. Seandainya transportasi umum bisa lebih baik lagi, misalnya
fasilitas dan akses dapat menjangkau ke daerah-daerah yang terpencil, pasti
masyarakat memilih menggunakan kendaraan umum dari pada kendaraan pribadi.
Beberapa menit berlalu, bus berhenti di
halte menurunkan penumpang dan mengangkut penumpang yang baru. Kuamati keadaan
didalam bus ini, cukup padat. Ada beberapa orang yang berdiri menunggu giliran
untuk turun dari bus. Selang tidak berapa lama, tiba-tiba terdengar teriakan
dari seorang wanita muda.
“Tolong! Copet!”
Semua mata tertuju kepada wanita tersebut,
begitu juga denganku. Kemudian pandanganku berpindah keseseorang yang
mengenakan kaos warna hitam dilindungi jaket yang terbuat dari kulit. Bercelana
jeans panjang warna navy dan mengenakan sepatu. Wajahnya tidak begitu jelas
karena mengenakan snapback warna hitam. Kulihat ia sedikit berlari.
Disaat semua penumpang hanya bergumam dan
saling menatap tidak mengambil tindakan, aku sudah bergegas mengejar orang
tersebut tanpa dikomando. Orang tersebut berlari semakin kencang, begitu juga
denganku. Hembusan nafas saling beradu, detak jantung semakin dipacu, dan
langkah kaki semakin melaju. Sudah pasti dialah pelakunya, gumamku dalam
hati.
“Hei, Berhenti kau pencuri!”, teriaku dengan
nafas terengah-engah.
Pencuri atau orang yang aku curigai
sebagai copet tersebut berlari didalam kerumunan orang, ia berlari dengan
lincahnya, gesit seperti belut dalam lumpur. Para pejalan kaki kutabraki, tidak
peduli caci maki mereka, aku hanya fokus untuk mengejar dan menagkap orang itu.
“Sial! kurang ajar! cepat juga larinya!”,
geramku.
Langkah kaki semakin kupacu maksimal, pencuri
itu berlari menyebrang jalan. Ku ikuti terus kemana langkah kaki pencuri
tersebut berpijak, dan kupastikan bahwa aku akan menangkapnya.
“Dasar sampah!”, Aku semakin geram.
Saat langkahku sampai di tengah jalan raya,
tanpa sadar ada sebuah mobil melaju kencang mendekat kearahku. Suara ban beradu
dengan aspal, berdenyit mengilukan telinga. Lalu....
Bruaakkk!!!, suara
tabrakan terdengar.
Aku terpental cukup jauh lalu terkapar. Tubuhku
tergeletak terlentang menatap matahari, sayup-sayup terlihat orang-orang datang
mengerumuniku. Kemudian pandanganku mulai terasa gelap, lalu aku tak sadarkan
diri.
*****
No comments:
Post a Comment