welcome

Thursday, August 31, 2017

Cerpen: Kamar Mandi yang Terkunci


“Kamar Mandi yang Terkunci”
Oleh : Aufklarung Nugroho


Tidak ada makhluk hidup yang diciptakan sempurna di dunia ini. Semua memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Begitu juga dengan manusia. Manusia adalah makhluk sosial. Kata ibuku, “Sesama manusia harus saling menyayangi, bukan menyakiti. Dan ketika kamu melihat seseorang disakiti, kamu harus membantunya”, begitu kiranya nasehat yang selalu ibu petuahkan kepadaku.

Kulihat dari kejauhan seorang siswi berambut kepang dua, berkaca mata bulat, dan penuh jerawat sedang dikerumuni oleh beberapa siswi di lorong tangga. Ia adalah Betty, seorang siswi culun yang selalu menjadi korban bullying geng siswi yang dipimpin oleh Grace. Geng yang di pimpin Grace terkenal dengan perkumpulan siswi paling cantik dan kaya di Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini. Sebagai seorang pimpinan, Grace adalah murid paling cantik dan juga sombong.

“Hei gengs..., liat nih, ada orang jelek, dekil, dan udik sekolah di SMP kita ini. iiiihhh...., bikin malu gak sih?”, kata Grace kepada gengnya yang terdiri dari 5 orang berdiri melingkari Betty.

“Iya nih, mana bau lagi. Ini orang gak pernah mandi sepertinya, lihat tuh bajunya, sampai berwarna kuning.”, kata Silvi salah seorang anggota geng itu.

Betty hanya terdiam menundukkan kepala, ia mencoba mencari celah menghindar dari kepungan geng tersebut.

“Eh eh.., mau kemana kamu?”, salah satu anggota geng tersebut yang bernama Patricia mencoba menghalangi jalan Betty untuk kabur.

“Heh cewek udik, kamu itu gak pantes sekolah disini. Disini itu tempat buat orang-orang cantik seperti kita. Cewek udik seperti kamu itu Cuma bikin sekolahan kita jadi jelek”, Grace mendorong Betty hingga jatuh dan membuat seragamnya menjadi kotor terkena genangan air karena guyuran hujan semalam.

Aku yang melihat kejadian itu langsung bergegas menghampiri mereka dan berteriak,”Hentikan! Apa yang kalian lakukan kepada Betty?”, Aku menolong Betty untuk bangkit berdiri dan membersihkan bajunya yang kotor dengan tanganku.

“Wah.., ada yang mau jadi pahlawan kepagian nih.”, kata Grace sembari mengipaskan kipas lipat yang sejak tadi ia genggam di tangannya.

“Kalian itu, selalu mengganggu Betty. Apa kalian tidak mempunyai kesibukan lain selain mengganggunya?!”, Kataku dengan nada yang sedikit ketus.

“Hei Elena, kamu jangan dekat-dekat dengan Betty, nanti pakaianmu jadi bau seperti dia”, Grace berkata sembari menteatrikalkan kata-katanya tadi dengan menutup hidungnya menggunakan tangan.

“Grace.., kamu tidak boleh begitu kepada Betty, bagaimanapun juga dia adalah teman kita.”, kataku dengan pasti.

“ih..., siapa juga yang mau berteman sama dia?, aku sih ogah”, kata Grace dengan gelagat seperti jijik terhadap sesuatu.

“Kamu haru meminta maaf kepada Betty, Grace.”

“Minta maaf ke dia? Ih ogah banget. Udah yuk gengs cabut, ada pahlawan kesiangan jadi gak asik. Dah udik.”, Grace dan gerombolannya berjalan meninggalkan aku dan Betty.

Kulihat Betty hanya diam menundukan kepala dengan tangan terkepal seperti memegang sesuatu dengan erat. “kamu tidak apa-apa?”, dan ia hanya menganggukan kepala. “Apa kamu membawa pakaian olah raga Betty?”, dan ia masih menjawab dengan menganggukkan kepala dengan pandangan tetap kebawah. “Baiklah kalau begitu bergegaslah ganti pakaian di kamar mandi, lalu bersihkan bagian bajumu yang kotor dengan air kemudian di jemur, nanti setelah olah raga selesai semoga sudah kering.”, ia tetap menjawab dengan anggukan kepala lalu pergi meninggalkanku menuju kamar mandi.
*****

Jam pertama pagi ini adalah penjaskes. Semua siswa kelasku berkumpul di lapangan. Lalu kami berbaris menjadi beberapa barisan untuk melakukan pemanasan. Saat pemanasan sedang berlangsung, Grace mengangkat tangan, “Pak Guru, saya mau izin ke toilet sebentar”.
“Ya, cepat sana”, pak guru menjawab dengan posisi tetap melakukan gerakan pemanasan.
Grace terlihat berjalan terburu-buru menahan sesuatu. Mungkin air seninya sudah di ujung tanduk ingin keluar. Lalu kuamati semua murid yang ada di lapangan ini. Aku merasakan seperti ada yang kurang. Betty tidak ada, batinku mungkin ia masih membersihkan pakaiannya, sebentar lagi pasti ia datang.

Dan beberapa menit berlalu. Pemanasan sudah selesai dan kami menunggu giliran untuk penilaian lompat jauh. Ku perhatikan teman-temanku, Betty masih belum datang juga dan sepertiya Grace juga belum kembali dari toilet.

Aku khawatir pada Betty, kenapa ia tak kunjung berkumpul di lapangan sekolah. “Apa terjadi sesuatu kepadanya?”, gumamku dalam hati. Mungkin aku harus memeriksanya di kamar mandi, lalu aku izin kepada pak guru.

Aku berjalan perlahan masuk kedalam toilet sekolah yang di dalamnya terdiri dari dua WC dan tiga kamar mandi dengan satu kamar mandi tertutup. Setahuku kamar mandi itu rusak dan sengaja dikunci agar tidak dipakai.

Toilet sepi, tidak ada orang. Mengapa bisa sepi batinku, “lalu Grace kemana?”.

Kuamati seluruh sudut ruangan di dalam toilet tersebut. Pandangku tertuju pada sebuah kipas lipat yang tergeletak di samping wastafel, lalu aku mendekati dan meraihnya. “inikan kipas milik Grace, mungkin tertinggal”, gumamku dalam hati dan kipas itu aku bawa.

Saat beberapa langkah mendekati pintu keluar toilet. Samar-samar aku mendengar suara seperti orang yang susah nafas dan membutuhkan oksigen. Suara itu mengarah kekamar mandi kosong yang tertutup itu. Aku sangat penasaran dan merasakan sesuatu yang aneh. Kamar mandi tersebut hanya bersekat tembok dan tidak penuh sampa atas atap, sehingga kita bisa melihat kamar mandi yang tertutup itu dengan memanjat bak mandi dari kamar mandi sebelah.

Perlaha-lahan aku melangkah menaiki bak mandi disebelah kamar mandi yang tertutup itu. Mengendap-endap agar suara langkahku tak terdengar. Setelah berhasil naik keatas bak mandi dengan posisi jongkok lalu aku berdiri mengintip kamar mandi yang tertutup dari balik tembok. Dan aku sangat terkejut.

Kulihat Betty mendekap tubuh Grace dari belakang dengan tangan kiri Betty memeluk tubuh dan tangan kanannya mencekik leher Grace. Kulihat Grace tak berdaya dalam posisi seperti itu, wajahnya mulai pucat, lalu aku berteriak, “Betty apa yang kamu lakukan?!!!”, ia terlihat kaget dan memandangku dari bawah tanpa melepaskan cekikannya. “Hentikan Betty!!!!”, teriakku kemudian bergegas turun dan berlari mencoba mendobrak pintu yang terkunci itu. Dengan mencoba beberapa kali, akhirnya pintu itu terbuka.

“Hentikan Betty!!!”, teriakku dengan nafas terengah-engah panik.

“Terlambat Elena, dia sudah mati”, jawabnya dengan nada yang datar dan tanpa dosa, seakan itu bukanlah dirinya. Lalu ia melepaskan tubuh Grace, dan tubuh itu jatuh kelantai tanpa daya.

“Apa yang kamu lakukan Betty?!!”, teriaku dengan menitihkan air mata meraih tubuh Grace yang terkulai sudah tak bernyawa.

“Dia sudah keterlaluan Elena, Aku sudah tidak tahan lagi”, kata Betty masih dengan ekspresi yang datar.

“Kamu tidak boleh melakukan ini Betty, Walaupun begitu, GRACE ADALAH TEMAN KITA!!!”, teriakku.

Mendengar teriakan itu, wajah Betty seakan terkejut, lalu ia melangkah mundur. Betty terlihat seperti orang yang kebingungan, tatapannya kosong beberapa saat, lalu tiba-tiba air mata menetes dari pipinya. Betty menangis tersedu-sedu.

“Maa..af..kan aku E.e...lena....”, ia menangis semakin sendu dan menghempaskan tubuhnya perlahan jatuh ke lantai, lalu ia menangis dengan posisi tangan memeluk lutut dan menenggelamkan wajahnya diantara lututnya yang di tekuk.

“MAAFKAN AKU ELENA...., Maafkan aku....”, Betty menangis seakan menyesali apa yang telah ia perbuat kepada Grace.

Kemudian orang-orang mulai berdatangan memenuhi toilet sekolah ini. Semua orang bertanya-tanya apa yang terjadi. Dan aku hanya mampu menangis.

*****

No comments:

Post a Comment